SADAR KAYA : “Millionaire Mindset”

SADAR KAYA : “Millionaire Mindset”

Baca Artikel Sebelumnya : SADAR KAYA : “Otak Sama, Nasib Beda”

DULU kehidupan saya mengalami goncangan yang amat sangat, itu bukan pertama kali melainkan kedua kalinya saya terpuruk

Tapi yang kedua itu sangat dahsyat, seluruh harta saya hilang dan hutang saya juga bertumpuk.

Ketika itu saya memiliki beragam bisnis tetapi dalam masa hampir bersamaan ditimpa kesialan beruntun yang terjadi dalam kehidupan saya.

Money changer saya kecurian hingga 2 kali dalam tiga bulan, Kapal Barts saya yang bertransaksi dalam pengiriman hasil pertambangan di Balik Papan karam dan asuransi tidak membayarnya. Pabrik Kapur saya yang masih berhutang ke bank kena gempa di Cileungsi. Gempanya memang kecil tetapi meretakkan tungku utama dengan harga yang mahal.

Traktor query kapur meluncur tak terkendali, menabrak pabrik, asuransi juga tidak menggantinya. Ditambah bank pembiayaan PDFCI ditutup BPBN

Ditengah krisis berkepanjangan harga bahan baku naik 200 persen yaitu gas. Perusahaan saya terpaksa fair plang see

Semua musibah ini terjadi dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun yakni tahun 1999 sampai tahun 2001.

Kerugiannya tak tanggung-tanggung, mobil 4 habis, 1 rumah hilang sedangkan hutang masih 9 digit.

Setiap saat, setiap hari emosi saya memuncak, makan keluarga, sewa rumah, uang sekolah anak membuat panik dan marah.

Mau bekerja dimana? Kapan hutang terbayar? Bagaimana untuk hidup dikejar debt collector? Dikejar hukum, dikejar BPBN dan dikejar teman investor yang marah dan kecewa.

Bayangkan Betapa kusutnya situasi saya saat itu.

Ditengah keputusan asaan siang itu saya langsung memandang  langit dan bicara kepada Allah swt. Tuhan yang saya percayai 100 persen, saya katakan bahwa saya putus asa dan hidup saya sudah diambang frustasi, saya marah sekali kepada semuanya. Saya menuduh kehidupan ini tidak adil. Saya merasa telah melaksanakan seluruh ajaran agama, saya teringat  Betapa tertibnya saya melaksanakan puasa Senin-Kamis selama 5 tahun tak terputus.

Setiap malam saya selalu bangun untuk bertahajjud, yang wajib-wajih apalagi sudah pasti saya laksanakan. Hitungan zakat maal dan sedekah lainnya, saya bayarkan lebih dari 2,5 persen aturan baku.

Saya mendirikan panti asuhan dan mengelola 8 panti lainnya menampung 400 anak yatim dalam kurun waktu 5 tahun. Itu semua saya laksanakan dengan tulus dan keindahan munajat

Namun ketika kebangkrutan beruntun selama 2 tahun, tanpa jeda dan tanpa belas kasihan terjadi kepada saya, saya mempertanyakan apa bukti ketaatan dengan kenyataan yang saya dapat.

Jujur saja, saya marah kepada Tuhan, saya protes bahkan sempat muncul keraguan dalam hati saya yang mempertanyakan keadilan Tuhan. Saya bertanya kepada-Nya mengapa musibah ini menimpa saya.
Apa lagi yang kurang dari saya, sehingga saya pantas menerima ini semua. Mengapa rasanya hidup ini kejam dan sadis sekali?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus  berputar dalam kepala saya, akhirnya saya mulai menjauh dari Tuhan, jangankan yang sunat yang wajib pun saya tinggalkan.

Saya meragukan semuanya tentang ajaran kebenaran agama saya, saya diam, saya bertanya tak ada jawaban, saya kesal, saya murka.

Permasalahan ekonomi ini akhirnya berimbas pada rumah tangga dan pernikahan pertama saya yang dulu. Istri saya kembali ke rumah mertua, kemudian saat itu anak saya yang tertua demam panas, tubuhnya 39 derajat celcius dan sudah tak bisa bangun. Adiknya pun mengalami hal yang sama. Mereka masih balita, berusia 4 dan 2 tahun.

Listrik dirumah sudah dipadamkan PLN, tidak ada lagi makanan. Tidak ada uang ditangan dan setiap saat ada telpon dari penagih hutang.

Saya berhutang pada lebih dari 5 institusi keuangan dan lebih dari 60 individu, dari hutang sejumlah 1 juta hingga miliaran.

Baca : Buku: Sadar Kaya, Sebuah Prakata

Puncaknya, suatu hari saya di telpon oleh sang pemberi hutang yang mungkin dia sudah muak dengan saya, dengan kasar dia akan mendatangi rumah saya sore itu . Dia akan menagih hutang, kalau tidak bayar maka dia akan paksa. Gaya bicaranya sudah seperti preman. Tumpah darahpun dia siap, katanya.

Saya tidak ada pilihan, selain mengasah pisau, saya sudah tidak sanggup lagi dan bersiap untuk kemungkinan terburuk.

Kalau memang orang itu menentang pertumpahan darah, terpaksa saya melawan. Saat itu, rasanya saya siap membantai orang, saya sudah tidak peduli lagi akan apa yang terjadi dan tidak punya apa-apa, bahkan harga diripun tidak ada. Saya siap mati.

Kedua anak saya yang demam membujur lemas di lantai beralaskan bedcover, yang satu minum dari botol air tajin beras, yang satu hanya diam dengan botol air mineral yang tidak diminumnya. Saya hanya menatap kosong, ke dokter tak bisa, jalan tak bisa.

Karena itulah, begitu ada yang menentang harga diri saya yang sudah tidak punya apa-apa ini, saya siapkan jiwa raga. Dia yang menagih kalau datang mencari ribut akan saya bunuh, pikiran laknat itu sempat terlintas dalam benak saya.

Saat itu saya berfikir toh dia orang rantau, keluarganya tak ada dikota ini, temannya pun pasti tak banyak, kalau saya terpaksa harus membunuh dia, akan saya kubur dia di halaman belakang, tidak akan ada yang tahu. Rasanya saya benar-benar dirasuki dajjal.

Saya kumpulkan barang-barang yang sekiranya bisa saya pakai membantai orang. Benda tajam, benda keras, benda panjang, semua senjata serang saya tahu sekali bagaimana menggunakannya dan tahu sekali dimana letaknya disetiap sudut rumah.

Kring…. kring…. kring…. telpon rumah yang sudah di blokir yang hanya bisa menerima panggilan itu, berdering.

Sementara saya masih melamun dengan gamang hingga dering ke sekian, barulah saya tersadar, mungkin itu si penagih hutang lagi pikir saya dengan gusar.

Sayapun mengangkat telpon. “Halo,” kata saya, dengan kasar.

“As salamu alaikum mas,” kata suara  diseberang dengan lembut.

Saya mengenalinya sebagai suara pak Ali, Pimpinan Yayasan Husnul Khotimah yang kemudian dikenal sebagai Rumah Yatim Indonesia. Panti Asuhan yang saya bangun. Sayapun terhenyak dan menjawab dengan melemah, “Wa alaikum salam, pak Ali.”

“Mas, saya telpon 3 kali, kok gak diangkat, lagi sibuk ya Mas,” tanya pak Ali dengan logat Lamongan-nya yang khas.

“Maaf pak Ali, saya sedang ada kesibukan, apa kabar?,” sahut saya sambil mengatur napas yang sedang emosi.

“Mas dengar-dengar sedang ada masalah ya. Istri pergi, anak sakit, rumah dan isinya sudah dijual, listrik diputus, apa benar mas,” tanya-nya dengan serius.

Dengan berat saya menjawab, “Ya benar, pak Ali.”

“Mbok ya kalau ada masalah begini ceritalah ke saya Mas,” kata pak Ali.

Saya tertegun mendengarnya, kemudian lanjutnya, “Mas, walaupun kita miskin, Yayasan kita ada sedang pegang uang. Kalau Mas butuh ada nih 3 juta, pakai saja dulu Mas, Mas berhak kok, 5 tahun Mas membangun yayasan ini. Kalau ada masalah seperti ini, Mas punya hak untuk memakai atau meminjamnya Mas. Saya kerumah sekarang ya, biar Mas bisa bawa anak-anak ke dokter, saya antar.”

Rasanya saat itu bara dihati saya seakan disiram seember es batu. Saya tertegun terduduk dan menangis tersedu-sedu, saya tak kuasa menahan getaran didada, antara haru , malu, senang, kesal, semua jadi satu.

Dengkul saya keduanya dilantai, tangan kanan saya masih memegang klewang,
pedang pendek yang terasah tajam. Sesaat kemudian saya buang jauh, yang ada hanya diri saya yang tersungkur dan bersujud. Saya salah, saya salah, saya salah, bathin saya memohon taubat.

Tak lama kemudian, selagi saya terduduk dibawah pohon kelapa menatap langit di teras belakang rumah, saya terdengar suara bariton yang mengucap salam, “As salamu alaikum,” saya pikir pak Ali, ternyata bukan. Ah, ini dia orang yang tadinya akan menagih hutang dengan menantang saya.

Sayapun menjawab, “Wa alaikum salam.”

Tanpa basa basi dia langsung bertanya, “Begini pak, hutang bapak yang 10 juta, apa bisa saya ambil sekarang?”

Saya hanya berkata, “Anak saya sakit, saya perlu uang untuk biaya anak saya. Sebentar lagi ada uang 3 juta datang, terserah mas mau ambil berapa, mas yg atur,” kalimat itu mengalir tanpa saya rancang. Marah saya sudah hilang, saya pasrah saja.

“Oh, begitu ya pak,” katanya dengan nada datar. “Anak bapak sakit dua-duanya yang berbaring didalam itu,” sambil mengedikkan matanya.

“Ya,” jawab saya singkat.

“Oh, maaf kalau begitu, saya gak tahu kalau anak bapak sakit. Sebaiknya bapak urus mereka. Uang saya gampang, saya pamit dulu, besok-besok kabari saya, ya pak,” katanya tanpa diduga-duga.

Diapun pamit pergi dan saya masih dalam posisi bingung, lunglai diujung bangku dibawah pohon. Tubuh saya berkeringat dan memaksa diri untuk bangun mengikuti dirinya dari belakang, sambil berkata, “Mas, saya pasti membayar hutang saya. Saya hanya butuh waktu. Maafkan saya, ya mas. Kalau saya kasar atau panik,” kata saya.

Ketika dia berbalik badan dan saya julurkan tangan, ia sambut jabat tangan yang erat, senyum dibibirnya, Iapun berkata, “Ya pak, saya juga minta maaf.”

“Saya salah mas,” kata saya, Saya berhutang tapi tidak berkemampuan, tapi saya janji pasti saya bayar.

Tak lama setelah dia pergi. Datanglah pak Ali dengan Kijang tuanya.

Sumber : Buku ‘SADAR KAYA’ Karya : Mardigu Wowiek Prasantyo

Baca Artikel Berikutnya : SADAR KAYA : “Millionaire Mindset 2”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: