Kecerdasan James Braid, Hipnotis Modern

James Braid yang menurut William Kroger sebagai bapak Hipnotis Modern ternyata adalah pribadi ‘humble’ yang tertarik untuk meneliti fenomena apa persisnya yang terjadi ketika seseorang diberikan intervensi ‘Animal Magentism’ atau lebih sering dikenal dengan Mesmerism, berdasarkan nama perumusnya yaitu Franz Anton Mesmer.

Ketertarikan Braid pada fenomena Animal Magentism adalah dengan mengamati demonstrasi yang dilakukan oleh Charles Lafontaine tentang fenomena magnet yang mempengaruhi kondisi seseorang pada tahun 1841.

Saat itu Braid belum menemukan apa persisnya fenomena yang terjadi, dan hal itu membuat dirinya mengikuti beberapa kali demonstrasi yang dilakukan oleh Lafontaine.

Disinilah letak kecerdasan Braid untuk memahami sebuah fenomena, dia menggunakan pola-pola yang dibutuhkan oleh seorang pembelajar, seperti, Open Minded, Experimental Objektif, Subjektif Decision, Analytical Reference, Growth Mindset dan Know Nothing state, sehingga saat mengamati dinamika demonstrasi Animal Magentism, dia menemukan beberapa hal menarik.

Yang pertama adalah teknik Lafontaine adalah kombinasi dari sentuhan fisik, tatapan dan fiksasi mata, hal ini dimulai dengan operator dan subjek saling bertatapan, lalu operator memegang jempol tangan subjek, lalu membuat subjek fokus, sehingga membuat subjek mengalami tidur syaraf atau yang saat itu disebut Neuro Sleep, dan memunculkan banyak fenomena seperti katalepsy, dll.

Pengamatan selanjutnya adalah ternyata menurut Braid, terjadi fenomena tidur syaraf itu bukan efek dari magnet yang digunakan oleh Lafontaine, tetapi karena ada beberapa pengkondisian yang dilakukan oleh operator terhadap subjek, secara ide, verbal dan bahasa non-verbal untuk membuat seseorang mengalami fenomena tidur syaraf, kalau istilah sekarang dikenal “Yes Set Conditioning”, yaitu mengkomunikasikan ide kepada subjek.

Fenomena lainnya yang diamati oleh Braid adalah, adanya kedekatan antara Lafontaine dengan subjek, dulu dikenal dengan istilah “Rapport”, adalah keakraban dan keterhubungan, sehingga ide yang ditanamkan berpengaruh, Sigmeund Freud menggunakan istilah Transferensi untuk fenomena ini, yaitu munculnya emosi tertentu terhadap seseorang, secara sederhana tentang rasa percaya bahwa orang tersebut bisa memenuhi kebutuhan emosinya.

Dan uniknya rupanya menurut laporan Braid, Lafontaine juga beberapa kali tidak berhasil membuat seseorang mengalami kondisi tidur syaraf, dan hanya sukses dengan asistennya saja, mungkin karena Rapport itu belum terbangun.

Untuk tambahan informasi fenomena tidur syaraf atau Neuro Sleep, saat ini dikenal dengan fenomena terjadi perubahan gelombang otak dari Beta, Alpha ke Theta, yang bisa digunakan untuk memberikan sugesti atau explorasi pikiran bawah sadar untuk memunculkan fenomena hipnotik.

Dan rupanya istilah Hypnosis bukan Braid yang membuat, tapi Nancy School di
Prancis seperti lembaga kursus dan penelitian yang mengkai hypnosis dan psychotherapy, yang di dalamnya ada Dr.Liébeault  dan Profesor Bernheim, sementara Braid hanya mengenalkan istilah Hypnotism.

Walaupun Braid yakin bahwa sugesti hipnotik bisa memberi kesembuhan terhadap masalah kesehatan seseorang, tapi dia tidak menggunakan hal itu, dia menggunakannya untuk konteks tertentu dan membedakannya antara intervensi medis dan hypnotism.

Kecerdasan selanjutnya adalah rupanya Braid pandai membangun Rapport dengan seseorang, dia bukan hanya cerdas secara kognitif tapi juga cerdas secara emosi, dia memahami jika dia dekat dengan Lafontaine tanpa menjustifikasi, dia akan belajar banyak tentang fenomena Animal Magentism itu, dia akan melihat sesuatu secara lebih luas, sehingga deras juga ilmu pengetahuan yang muncul, Braid seperti lebih melihat tentang kebermanfaatan dan kebermaknaan dari apa yang telah dilakukan oleh pengguna Animal Magentism atau sering dikenal istilah Mesmerism.

Secara pribadi berkembangnya aliran pendekatan hypnosis bisa dikatakan seperti seseorang meyakini suatu agama, jika seseorang sudah meyakini sebuah pendekatan itu, maka dia akan memegang teguh nilai dan prinsip yang diyakininya, sebab hal itu membuatnya hidup dan bernilai.

Nah, sebagai seorang juru hipnotis atau hipnoterapis sebaiknya kita memiliki banyak pendekatan untuk melakukan terapi olah pikir seperti yang disarankan oleh BNSP, Kemnaker dan Kemenkes, sehingga modalitas terapi kita sesuai dengan tuntutan masyarakat, jadi jangan hanya punya palu, dimana setiap masalah hanya diselesaikan oleh palu.

Kembali ke James Braid, dari fenomena kecerdasannya kita bisa memodel bahwa untuk menjadi seorang pembelajar, berpikiran terbuka dan kristis secara konstruktif akan membuat kita belajar bahwa rahasia semesta dan samudera ilmu pengetahuan itu bisa ditemukan dimana saja dan kapan saja.

Sekian

Semoga Bermanfaat dan Terima kasih.

Salam Pembelajar dan Salam Hypnosis.

Yusdi Lastutiyanto
Pembelajar Hypnosis

Sumber Bacaan :

  1. James Braid. The Discovery Of Hypnosis.
  2. Ira Greenberg. Group Hypnotherapy dan Hypnodrama.
  3. Allan H. Ropper and Brian David Burrell. How The Brain Lost Its Mind: Sex, Hysteria and the Riddle of Mental Illness.
  4. Héctor Pérez-Rincón. The theater of hysterics: How Charcot discovered, among other things, that there were also hysterics”
  5. William Kroger. Clinical and Experimental Hypnosis in Medicine, Dentistry, and Psychology

Tinggalkan Balasan