DLH Kab. Mura Raih Juara II Inovasi Kategori Inovasi Bentuk Lainnya

Silampari.com-Musirawas

Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Musi Rawas (7/9/2020), Dalam Ajang lomba inovasi yang diselengarakan oleh Balitbang Kabupaten Musi Rawas tahun 2020, DLH Kab. Mura menorehkan sejarah untuk pertama kalinya menjuarai inovasi dalam kategori bentuk lainnya yaitu juara II, ada 3 kategori yang di lombakan dalam ajang tersebut yaitu : kategori inovasi pelayanan publik, inovasi tata pemerintahan dan inovasi bentuk lainnya.

Inovasi yang di buat DLH Kab. Mura diambil dari semangat tupoksi yaitu meningkatkan kualitas lingkungan hidup, kualitas tersebut dibagi menjadi tiga yaitu terciptanya kualitas udara, air dan tanah yang sehat, untuk capaian peningkatan kualitas lingkungan hidup perlu di desain inovasi agar perintah dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dapat tercapai.

Dalam pemaparanya saat lomba inovasi di hadapan dewan juri dari Puslitbang RI, Balitbang Propinsi, Balitbang Kabupaten dan Akademisi Universitas Musi Rawas, Jalin Elsaprike penemu inovasi Tungku Pirolis Double Burner sekaligus Kabid Tata Lingkungan menyampaikan inovasi ini lahir dari permasalahan yang di hadapi oleh DLH Kab. Mura, Masyarakat petani dan Lembaga/OPD terkait dengan Satgas Karhutla seperti TNI, Polisi, BPBD dan Manggala Agni.

Permasalahan tersebut tiap tahun terus berulang yaitu karhutla, kondisi kejadian karhutla selalu terjadi saat musim kemarau banyak masyarakat petani yang membuka lahan kebun dengan cara membakar, padahal pola pembukaan lahan tersebut merupakan warisan nenek moyang atau lebih kita kenal dengan istilah manduk/nugal, di dalam penjelasan Pasal 69 huruf h UURI 32 tahun 2009 kegiatan pembukaan lahan boleh di lakukan oleh masyarakat yang memiliki kearifan lokal dengan luas lahan maksimal 2 Ha.

Menjadi dilematik, di sisi lain kegiatan manduk menurukan kualitas lingkungan, permasalahan hukum bagi masyarakat petani, penyalahgunaan kegiatan manduk dari oknum perusahaan dan lemahnya pengawasan karhutla karena luasan wilayah pengawasan yang relatif sangat luas, sehingga di perlukan pemikiran bagaimana memberikan solusi yang murah, mudah, cepat dan memberikan dampak positif agar semua pihak di menangkan dengan memanfaatkan sisa limbah kayu hasil pembukaan lahan untuk diolah agar dapat menjadi nilai ekonomi yang tinggi.

Melalui inovasi tungku pirolis double burner (PDB) yang menerapkan konsep pembakaran tertutup tanpa asap sisa limbah kayu tersebut di olah sehingga menghasilkan produk baru berupa arang kualitas tinggi dan asap cair, jika dalam 1 x pembukaan lahan luas 1 ha dengan kondisi lahan berupa semak belukar potensi kayu yang dapat di manfaatkan minimal 30 meter kubik, ambil saja 30% rendemen menjadi produk arang maka nilai rupiah yang dihasilkan dari penjualan arang sebesar Rp. 9 juta (harga arang Rp. 1000/kg x (30.000 kg x 30%).

Belum asap cairnya untuk 1 liter Rp. 20.000 dalam 100 kg kayu yang di masak di tungku PDB menghasilkan 35 liter x Rp. 20.000 penghasilan yang di peroleh sebesar Rp. 700 ribuan, asap cair yang bisa dimanfaatkan sebagai desinfektan, pengawet kayu, pengawet makanan dan penghilang bau, nah di sisi lain kasus karhutla di prediksi akan menurun jika masyarakat mau mengadopsinya.

saat ini sudah 6 kabupaten yang mengadopsi alat tungku PDB melalui dunia usaha dan bantuan Pemerintah Propinsi untuk di salurkan ke UPPB yaitu Kabupaten Muara Enim, OKU, OKI OI, Muba dan Empat Lawang, terang jalin saat pemaparan dengan hasil penilaian pemaparan terbaik. (Rils Red)

Tinggalkan Balasan